Pembahasan I Hasil Uji dan Adopsi Baku Pembanding 2017

16-10-2017 PPOMN Dilihat 4009 kali Pusat Data dan Informasi Obat dan Makanan

Baku pembanding sangat dibutuhkan untuk menunjang pengujian di semua laboratorium di lingkungan Badan POM dalam rangka menunjang penguatan pengawasan produk obat dan makanan. Namun banyak kendala yang dihadapi terutama terkait pengadaan bahan baku pembanding yang dibutuhkan untuk pengembangannya. Kerjasama yang baik diantara PPOMN dengan berbagai unit terkait di Badan POM sangatlah diperlukan.

Pengembangan baku pembanding dilakukan melalui pengujian bahan baku pembanding yang divalidasi terhadap baku pembanding primer. Prosesnya dimulai dari perencanaan produksi, pengadaan bahan, penelusuran pustaka, optimasi metode analisis, validasi metode, uji kolaborasi dengan beberapa laboratorium pengujian lainnya, kompilasi dan analisis statistik data hasil kolaborasi, perhitungan ketidakpastian pengukuran, pembuatan draft laporan analisis, pembahasan internal hasil uji baku pembanding, pembahasan hasil uji dan adopsi baku pembanding.

Setiap tahun Laboratorium Baku Pembanding PPOMN melaksanakan kegiatan Pembahasan Hasil Uji dan Adopsi Baku Pembanding yang merupakan salah satu tahapan yang harus dilakukan  dalam proses pengembangan baku pembanding sesuai ISO 17034: 2016. Pembahasan ini dilakukan dua kali dalam setahun, dan melibatkan tenaga ahli dari perguruan tinggi, perwakilan kolaborator pengujian baku pembanding (ada 14 BBPOM Kolaborator, yaitu BBPOM di Medan, BBPOM di Padang, BBPOM di Bandar Lampung, BBPOM di DKI, BBPOM di Bandung, BBPOM di Semarang, BBPOM di Yogyakarta, BBPOM di Surabaya, BBPOM di Denpasar, BBPOM di Mataram, BBPOM di Banjarmasin, BBPOM di Samarinda, BBPOM di Manado, dan BBPOM di Makasar); perwakilan kolaborator pengujian baku pembanding dari Industri Farmasi;  staf penguji baku pembanding dari BBPOM di Yogyakarta sebagai Balai Unggulan Baku Pembanding; dan seluruh staf penguji laboratorium Baku Pembanding PPOMN.

Pembahasan I hasil uji dan adopsi baku pembanding tahun 2017 ini telah dilakukan pada tanggal 10-12 Oktober 2017 yang lalu, pembukaan dilakukan oleh Kepala PPOMN ibu Atiek Supardiati Eka S, S.Si., Apt., MKM. Sebagai tenaga ahli adalah Prof. Dr. Slamet Ibrahim, DEA., Apt. dari Sekolah Farmasi ITB dan Prof. Dr. Sudibyo Martono, M.S., Apt. dari Universitas Gajah Mada. Dan dihadiri oleh perwakilan dari 8 BBPOM Kolaborator (BBPOM Medan, BBPOM di Padang, BBPOM di DKI, BBPOM di Semarang, BBPOM di Yogyakarta, BBPOM di Surabaya, BBPOM di Banjarmasin, BBPOM di Samarinda); Perwakilan Kolaborator dari industri yaitu PT. Riasima Abadi Farma dan PT. Glaxo Wellcome Indonesia; Staf Balai Unggulan Baku Pembanding BBPOM di Yogyakarta dan  staf Laboratorium Baku Pembanding PPOMN. Pada kesempatan ini dibahas 33 jenis calon baku pembanding.

Berhasil diadopsi 32 jenis calon baku Pembanding, menjadi Baku Pembanding Farmakope Indonesia (BPFI) dan Baku Pembanding Laboratorium (BPL/Baku Pembanding yang tidak ada artikelnya dalam Farmakope Indonesia}.  Satu calon baku pembanding belum dapat diadopsi karena masih ada data hasil uji yang belum lengkap.

Pembahasan kedua akan dilakukan pada awal Desember 2017 yang akan datang, diharapkan kedatangan bahan baku dan pengujiannya akan berjalan lancer, masih ada 42 jenis calon baku pembanding lagi yang akan dibahas dan diadopsi pada pembahasan kedua nanti.

Proses selanjutnya adalah sertifikasi baku pembanding, dan penetapan nilai BMNnya. Kemudian dilakukan pengemasan, penyimpanan yang sesuai, dan pendistribusian sesuai permintaan dari laboratorium yang membutuhkan.

Bagikan:

Klik disini untuk chat via WhatsApp!+
Sarana