Pembangunan Fasilitas Produksi Radiofarmaka, Tekan Kanker di Indonesia.

16-08-2024 Kerjasama dan Humas Dilihat 1618 kali Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

Sidoarjo – Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala BPOM RI sekaligus Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan RI L. Rizka Andalusia meresmikan secara simbolis tahap awal pembangunan fasilitas produksi radioisotop dan radiofarmaka milik PT Kalbe Farma Tbk. di Sidoarjo, Jawa Timur, Kamis (15/8/2024). Acara groundbreaking ini dihadiri juga oleh Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Jawa Timur Dyah Wahyu Ermawati serta Sekretaris Daerah Kabupaten Sidoarjo Fenny Apridawati. 

Fasilitas yang dibangun akan memproduksi fluorodeoxyglucose (FDG), sebuah komponen isotop penting untuk digunakan pada proses deteksi dini kanker melalui teknologi Positron Emission Tomography and Computed Tomography Scanning (PET/CT-Scan). Direktur PT Kalbe Farma Tbk. Mulialie menjelaskan bahwa pendirian fasilitas ini merupakan bagian dari kontribusi perusahaan untuk mempercepat pertumbuhan ekosistem radiofarmaka dan kedokteran nuklir di Indonesia. 

"Peran dari para stakeholder lain tentulah sangat diperlukan, khususnya dukungan dari pemerintah melalui Kementerian Kesehatan, BPOM, dan BAPETEN," ujarnya. Mulialie juga menambahkan bahwa fasilitas ini direncanakan akan beroperasi pada tahun 2025 dan diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan rumah sakit serta memperluas akses pasien kanker ke terapi yang komprehensif.

Plt. Kepala BPOM menyatakan bahwa kanker memberikan beban penyakit yang tinggi di Indonesia, khususnya dalam pembiayaan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. "Pada tahun 2022, WHO mencatat sekitar 408.661 kasus baru kanker dengan 242.988 kematian. Angka ini diprediksi akan terus meningkat jika upaya penanggulangan kanker tidak dilakukan," ungkapnya. 

Ia juga menerangkan, alat diagnostik PET/CT-Scan merupakan alat yang penting untuk penanganan kanker. Alat ini membutuhkan salah satu produk radiofarmaka, yaitu FDG yang diproduksi oleh alat yang disebut Cyclotron.

Rizka Andalusia menyoroti tantangan yang ada, termasuk kapasitas pelayanan yang belum memadai dan akses terbatas terhadap obat dan alat diagnostik inovatif seperti PET/CT-Scan. "Kita masih memiliki masalah terkait akses obat dan alat diagnostik, salah satunya adalah PET/CT-Scan yang memerlukan produk radiofarmaka seperti FDG," jelasnya. 

Ia juga mengungkapkan bahwa saat ini hanya ada 3 Cyclotron di Indonesia, yaitu di RS Siloam, RS Kanker Dharmais, dan RS Gading Pluit. Ketiga rumah sakit tersebut berlokasi di Jakarta dengan kapasitas kecil, yang menyebabkan masalah dalam penanganan pasien kanker. 

"Melalui pembangunan fasilitas ini, kami berharap distribusi FDG hingga ke Indonesia Timur dapat lebih mudah dan dekat sehingga memudahkan akses bagi pasien di wilayah tersebut," tambah Rizka Andalusia. 

Ia berharap dengan fasilitas ini, layanan kesehatan, khususnya terapi kanker, di Jawa Timur dapat meningkat dan bersaing dengan negara tetangga. Pembangunan fasilitas ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi FDG, tetapi juga mendukung upaya pemerintah dalam memperluas akses pelayanan kesehatan kanker di seluruh Indonesia. (HM-Benny) 

 

Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

 

Berita Terkait

Bagikan:

Klik disini untuk chat via WhatsApp!+
Sarana