Jakarta - “Saya berharap semua peserta mendapatkan pengalaman belajar yang bermanfaat selama lokakarya ini. Bersama kita dapat memperkuat kapasitas dan jaringan laboratorium pengujian bahan tambahan pangan di ASEAN”. Berikut pernyataan yang disampaikan oleh Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala BPOM RI, L Rizka Andalusia, saat membuka kegiatan lokakarya Asean Food Reference Laboratory (AFRL) secara online pada Senin (1/7/2024).
BPOM, melalui Pusat Pengembangan Pengujian Obat dan Makanan Nasional (PPPOMN), menyelenggarakan lokakarya AFRL dalam upaya memperkuat pengawasan mutu dan keamanan produk pangan di kawasan ASEAN. Lokakarya yang diselenggarakan selama 5 hari ini diikuti oleh peserta dari National Food Reference Laboratory (NFRL) di 9 negara ASEAN, serta perwakilan dari Balai Besar/Balai POM di berbagai wilayah Indonesia.
AFRL merupakan jejaring laboratorium pangan di lingkup ASEAN. Tahun 2014, pada sidang Prepared Foodstuff Product Working Group (PFPWG) ke-19 di Myanmar, Indonesia ditetapkan sebagai AFRL untuk bahan tambahan pangan. Sejak saat itu, Indonesia terus berupaya menyelenggarakan pelatihan yang relevan dan berkualitas bagi seluruh anggota ASEAN, termasuk lokakarya ini yang mengangkat tema "Analisis Bahan Tambahan Pangan (BTP) Antioksidan pada Produk Pangan".
Di Indonesia, penggunaan BTP seperti pemanis, pewarna, pengawet, dan antioksidan telah diatur dalam Peraturan Kepala BPOM RI. Pelatihan ini merupakan langkah BPOM untuk menyetarakan kemampuan pengujian di laboratorium negara-negara ASEAN, sekaligus meningkatkan kapasitas pengujian terutama BTP dalam rangka pengawasan pangan.
Selama 5 hari, peserta dengan antusias mengikuti berbagai kegiatan yang meliputi kuliah praktis, responsi, dan praktik laboratorium yang dilaksanakan di Laboratorium Kimia Pangan Olahan dan Air PPPOMN. Di hari pertama dan kedua, peserta juga memperoleh pemaparan materi yang bermanfaat dari 5 narasumber yang ahli di berbagai bidang.
Salah satu narasumber yang hadir adalah Ketua Asosiasi Profesi Keamanan Pangan Indonesia Roy Sparringa. Dalam paparannya, Ia memberikan wawasan mengenai peran laboratorium dalam penilaian risiko keamanan pangan nasional. “Tujuan dari analisis risiko keamanan pangan adalah untuk memastikan perlindungan kesehatan manusia dan menjaga kepercayaan dalam perdagangan makanan,” ujarnya.
Narasumber lainnya yang juga hadir pada kesempatan ini, di antaranya Prof. Mohamad Rafi dari Institut Pertanian Bogor dan Dr. Julia Kantasubrata dari RC Chem Learning Center. Masing-masing membahas tentang persiapan sampel dan analisis antioksidan dalam makanan olahan dan pemastian validitas hasil.
Para peserta yang hadir mengapresiasi rangkaian kegiatan pada lokakarya ini. Salah satunya disampaikan oleh peserta dari Malaysia dengan keahlian analisis pangan, Mardhiah, yang menyebut bahwa pelatihan ini sangat membantu meningkatkan kemampuan kerjanya.
“From the first and second day, the speakers are very knowledgeable. The input that i get from the first and second day really improve my knowledge…,” ujar Mardhiah dengan aksen khas melayunya.
Kolaborasi antar negara ASEAN, terutama dalam jejaring laboratorium, sangat penting untuk dilakukan. Kolaborasi ini memungkinkan negara-negara ASEAN dapat berbagi pengetahuan, teknologi, dan sumber daya. Negara-negara dengan laboratorium dan infrastruktur yang lebih maju dapat membantu negara lain untuk meningkatkan kapasitas mereka dalam hal pengujian dan analisis pangan. Lebih jauh lagi, kolaborasi dapat mengembangkan dan menerapkan standar keamanan pangan yang seragam sehingga memudahkan perdagangan antarnegara dan memastikan bahwa produk makanan yang beredar aman untuk dikonsumsi. (HM-Zein)
Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
