Jakarta - “Saya menganggap apoteker memiliki peran strategis, urgent, dan sangat penting.” Demikian disampaikan Kepala BPOM Taruna Ikrar dalam keynote speech yang ditayangkan melalui rekaman video pada hari pertama Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) dan Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) HISFARSI 2025 di Jakarta, Rabu (25/6/2025).
Dalam keynote speech-nya, Taruna Ikrar menegaskan bahwa apoteker, khususnya yang bertugas di rumah sakit, memiliki tanggung jawab besar dalam memastikan ketersediaan obat yang aman, bermutu, dan berkhasiat. Untuk itu, kompetensi manajerial para apoteker perlu terus dikembangkan agar layanan kefarmasian di fasilitas kesehatan berjalan secara efisien dan sesuai dengan standar yang berlaku. Peran strategis ini menjadi semakin penting mengingat dinamika dunia farmasi yang berkembang pesat seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Kepala BPOM menyoroti sejumlah isu krusial yang perlu menjadi perhatian bersama. Salah satunya adalah perubahan tren produksi obat dari yang semula didominasi bahan kimia sintetis, kini mulai bergeser ke arah produk biologis yang memerlukan pendekatan dan pengawasan yang lebih kompleks. Selain itu, BPOM telah menerbitkan Peraturan BPOM Nomor 8 Tahun 2025 tentang pengembangan Advanced Therapy Medicinal Product (ATMP), yang mengatur penggunaan terapi inovatif, seperti terapi sel dan gen dalam pengobatan penyakit tertentu.
Isu lain yang juga mendapat perhatian adalah resistensi antimikroba atau antimicrobial resistance (AMR), yang saat ini menjadi tantangan kesehatan global. Dalam konteks ini, peran apoteker sangat penting dalam mengedukasi pasien, melakukan pemantauan penggunaan obat, serta menjadi bagian aktif dalam sistem pengawasan penggunaan antibiotik.
Lebih lanjut, Taruna Ikrar juga mengangkat potensi besar Indonesia dalam pengembangan obat bahan alam. Lebih dari 17.000 spesies tanaman obat yang ada di Indonesia memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai fitofarmaka. Menurutnya, Komite Kebijakan Sektor Kesehatan mulai fokus membahas pengembangan obat bahan alam (OBA) ini agar dapat digunakan secara lebih luas sebagai bagian sistem pelayanan kesehatan nasional.
Keempat isu tersebut yakni transformasi produksi obat, pengembangan terapi inovatif, ancaman AMR, dan pengembangan OBA menjadi tantangan sekaligus peluang besar bagi apoteker Indonesia. Maka dari itu, Kepala BPOM mengajak seluruh apoteker untuk terus meningkatkan kapasitas dan kompetensinya, sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan regulasi terkini. Ia juga menekankan pentingnya semangat life-long learning sebagai bagian dari profesionalisme seorang apoteker.
Menutup sambutannya, Kepala BPOM menyampaikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan PIT dan Mukernas HISFARSI 2025. Ia berharap forum ini dapat menjadi ajang diskusi yang produktif dan memperkuat komitmen seluruh apoteker dalam menjaga standar mutu layanan kefarmasian, khususnya di rumah sakit, demi mewujudkan kesehatan masyarakat Indonesia yang lebih baik.
Pada pembukaan kegiatan hari ini Ketua HISFARSI Ruslan M. Rauf juga menyampaikan harapan agar forum ini dapat melahirkan gagasan strategis dan inovasi serta kolaborasi yang mampu memperkuat peran apoteker rumah sakit dalam sistem pelayanan kesehatan. Ruslan M. Rauf juga mengajak jajaran HISFARSI untuk menyukseskan setiap kebijakan pemerintah, khususnya yang berkaitan dengan wilayah kerja apoteker di rumah sakit.
Kegiatan PIT dan Mukernas HISFARSI 2025 sendiri berlangsung selama 3 hari, 25--27 Juni 2025 di daerah Kuningan, Jakarta. Mengangkat tema “Advancing Hospital Pharmacy Practice: Ensuring Medication Safety and Optimizing Efficiency”, kegiatan ini diikuti oleh apoteker rumah sakit dari seluruh Indonesia. Selain Kepala BPOM, turut hadir pula Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan L. Rizka Andalusia, yang juga menyampaikan keynote speech seputar peran apoteker dalam meningkatkan keselamatan dan efisiensi penggunaan obat di fasilitas pelayanan kesehatan.
Melalui momentum ini, diharapkan kolaborasi antara BPOM dan para apoteker dapat semakin diperkuat. Sinergi ini bukan hanya penting untuk menjamin mutu obat, tetapi juga menjadi pilar utama dalam sistem kesehatan yang responsif, adaptif, dan berpihak pada keselamatan pasien. (HM-Nelly)
Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
Dokumentasi: HISFARSI
