Perkuatan Sinergisme Tata Kelola Pemerintahan dalam Lingkup Keamanan Pangan dan Kesehatan Masyarakat

24-01-2014 Dit Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan Dilihat 3814 kali Pusat Data dan Informasi Obat dan Makanan

Keamanan pangan merupakan salah satu aspek mendasar dalam kesehatan masyarakat. Salah satu fakta keamanan pangan menurut World Health Organization (WHO) adalah 200 jenis penyakit disebarkan melalui pangan. Penyakit akibat pangan (foodborne diseases) terus meningkat dan mengancam kesehatan masyarakat di seluruh dunia.  Sinergisme keamanan pangan dan kesehatan masyarakat untuk mengatasi permasalahan penyakit akibat pangan sangat penting untuk dilakukan.

 

Badan POM menyelenggarakan pertemuan Jejaring Intelijen Pangan (JIP) membahas sinergisme keamanan pangan dan kesehatan masyarakat pada tanggal 16 Januari 2014 di Jakarta. Pertemuan dihadiri oleh pemangku kepentingan di bidang keamanan pangan dan kesehatan masyarakat dari Kementerian Kesehatan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Pertanian, Lembaga Ilmu Penelitian Indonesia (LIPI), Badan POM, Dewan Riset Nasional, perguruan tinggi (Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Airlangga, Intitut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Andalas, Unika Atmajaya Jakarta, Universitas Sahid), dan perwakilan asosiasi terkait keamanan pangan dan kesehatan masyarakat (Perhimpunan Biokimia dan Biologi Molekuler Indonesia (PBBMI), Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI), Perhimpunan Sarjana Kesehatan Masyarakat Indonesia (PERSAKMI), dan Perhimpunan Biologi Indonesia (PBI)).

 

Kepala Badan POM RI, Dr Ir Roy A Sparringa, M.App.Sc. menyampaikan kebijakan sinergisme keamanan pangan dengan kesehatan masyarakat. Beberapa strategi yang perlu dikembangkan untuk mendukung sinergisme ini adalah peningkatan kapasitas laboratorium, pengembangan kompetensi sumber daya manusia, serta penguatan komunikasi dan jejaring baik di tingkat nasional maupun global. Profesor Francis Butler (Head of School of Biosystem Engineering, University College Dublin, Ireland) menyampaikan pentingnya membangun jejaring antara pemerintah dengan akademia untuk mendukung program keamanan pangan dan kesehatan masyarakat dalam paparannya tentang pengalaman mengembangkan jejaring serupa di Irlandia. Sesi diskusi penguatan jejaring keamanan pangan dan kesehatan masyarakat yang dipandu oleh Dr Dahrul Syah, Dekan Sekolah Pasca Sarjana IPB, menjadi ajang bagi peserta pertemuan untuk berbagi pengalaman dan tantangan yang dijumpai di lapangan dalam mencapai sinergisme keamanan pangan dan kesehatan masyarakat.

 

Sinergisme antara keamanan pangan dan kesehatan masyarakat juga tidak terlepas dari peran strategis laboratorium untuk memberikan hasil uji yang terpercaya terkait pangan yang diduga bermasalah maupun sampel klinis dari penderita atau korban penyakit akibat pangan. Hal ini diungkapkan oleh Profesor Seamus Fanning (Director for WHO Collaborating Center for Research, Reference, and Training for Chronobacter spp, UCD Center for Food Safety) yang memaparkan tentang metode surveilan molekuler sebagai salah satu contoh teknologi mutakhir yang dapat diterapkan untuk mensinergiskan keamanan pangan dan kesehatan masyarakat.  Hal ini didukung oleh Dr Anis Karuniawati, Kepala Laboratorium Mikrobiologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, yang berbagi pengalaman bagaimana laboratorium mikrobiologi klinis memiliki peran strategis untuk mendukung program keamanan pangan, khususnya untuk mengetahui penyebab penyakit akibat pangan melalui uji sampel klinis. Penjelasan pemateri ini semakin diperkaya dalam diskusi aktif dengan peserta yang dipandu oleh Prof Winiati P Rahayu, Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan.

 

Direktur Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan Badan POM, Drs Halim Nababan, MM, selaku Ketua Kelompok Kerja JIP menyampaikan rumusan rekomendasi pertemuan kali ini. Rekomendasi tersebut di antaranya perlu terobosan yang fokus dan detil dengan didukung oleh jejaring multi disiplin dan multi sektor pada skala nasional maupun internasional untuk mensinergiskan keamanan pangan dengan kesehatan masyarakat. Sumber daya, baik sumber daya manusia maupun infrastruktur, untuk mencapai hal tersebut telah tersedia di Indonesia. Namun demikian, manajemen yang serius dan terarah diperlukan sehingga pemanfaatan sumber daya serta peran masing-masing pihak lebih optimal. Salah satu yang dapat dilakukan adalah membentuk scientific panel sebagai upaya meningkatkan partisipasi tenaga ahli dalam penyelesaian permasalahan keamanan pangan dan kesehatan masyarakat. Penerapan metode yang mutakhir, seperti biologi molekuler, juga menjadi terobosan yang direkomendasikan untuk memberikan input yang lebih spesifik bagi manajer risiko dalam pengambilan keputusan.

 

 

Direktorat Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan

 

Bagikan:

Klik disini untuk chat via WhatsApp!+
Sarana