Amman – Di sela-sela pelatihan pengawasan obat dan makanan bagi Kementerian Kesehatan Palestina, BPOM bertemu dengan Jordan Food and Drug Administration (JFDA) di Amman, (21/05/2024). Pertemuan ini bertujuan memperkuat kerja sama kedua lembaga dalam bidang obat dan makanan. Isu strategis yang dibahas terkait strategi kolaborasi dan dukungan regulasi untuk kemudahan registrasi produk farmasi Indonesia di JFDA.
General Director Technical Assistant JFDA, Wesal AL Haqaish menyampaikan beberapa perkembangan registrasi produk obat Indonesia di JFDA. Semisal industri Dexa Medica tengah mendaftarkan produk obat diabetes dan injeksi yang rencananya akan diinspeksi pada tahun ini. Begitu juga Biofarma yang telah masuk dalam daftar inspeksi JFDA.
BPOM dan JFDA sepakat untuk memperkuat kolaborasi dalam berbagai bidang, termasuk pertukaran pengetahuan dan pengalaman. Kolaborasi direalisasikan dalam inspeksi dan pelatihan, serta fasilitasi registrasi produk farmasi Indonesia di JFDA. “Kami menawarkan dukungan regulasi kepada JFDA selama inspeksi fasilitas produksi Dexa Medica dan Biofarma,” ucap Kepala Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat BPOM, Noorman Effendi.
Terkait rencana inspeksi JFDA ke industri farmasi Indonesia, BPOM mengusulkan untuk menjadi observer dalam inspeksi tersebut untuk bisa mempelajari dan berbagi praktik terbaik dalam hal inspeksi. JFDA menyambut baik hal tersebut dan akan berkoordinasi lebih lanjut dengan BPOM.
Dalam pertemuan tersebut, BPOM dan JFDA juga saling berbagi pengalaman dalam pengawasan obat dan makanan, termasuk posisi masing-masing dalam forum internasional dan pendekatan harmonisasi standar yang diterapkan. General Director Technical Assistant JFDA, Wesal AL Haqaish menjelaskan komitmennya untuk meningkatkan standar regulasi dan target untuk mencapai Global Benchmarking Tools (GBT) World Health Organization (WHO) maturity level 3.
Sedangkan Noorman Effendi menyampaikan kemajuan BPOM dalam mendapatkan WHO Listed Authority (WLA), posisi sebagai observer, serta proses keanggotaan dalam the International Council for Harmonisation of Technical Requirements for Pharmaceuticals for Human Use (ICH). Noorman juga menjelaskan peran BPOM dalam penyusunan standar di Codex yang menjadi standar internasional yang konsisten dan berbasis ilmiah untuk keamanan pangan di seluruh dunia.
Kedepannya, kedua lembaga sepakat mengambil langkah-langkah konkret melalui penyusunan MoU di bidang pengawasan obat dan makanan. Saat ini BPOM telah bermitra dengan regulator lain dalam harmonisasi regulasi. Semisal keikutsertaan BPOM dalam ASEAN Joint Assessment, MRA on GMP di Tingkat ASEAN dan ASEAN Cosmetic Committee (ACC) yang menghasilkan ASEAN Cosmetic Directive serta pembahasan dalam Processed Food Product Working Group (PFPWG).
Pada kesempatan ini, BPOM juga menjelaskan mengenai Kerja Sama Selatan-Selatan (KSS) yang diantaranya diimplementasikan melalui pelatihan pengawasan obat dan makanan untuk Kementerian Kesehatan Palestina yang dilaksanakan di Amman, Jordan. Program KSS ini juga diberikan melalui pelatihan kepada negara mitra lainnya seperti Bangladesh, Nepal, Kenya, Tanzania. Termasuk pelatihan laboratorium SFDA di BPOM dan kunjungan pegawai BPOM untuk melatih SFDA di Arab Saudi.
Wesal AL Haqaish mengapresiasi kolaborasi BPOM untuk membantu Kementerian Kesehatan Palestina. Saat ini JFDA juga tengah menjajaki kerja sama dengan Kementerian Kesehatan Palestina. “Kolaborasi tersebut juga bisa dilakukan antara BPOM dan JFDA seperti pertukaran informasi dan harmonisasi standar obat dan makanan,” tutupnya. HM-Fathan
Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
