Pertemuan Kepala Otoritas Regulatori Obat Negara Anggota OKI Menjawab Tantangan Vaksin Global

21-11-2018 Kerjasama dan Humas Dilihat 1908 kali Pusat Data dan Informasi Obat dan Makanan

Jakarta - The First Meeting of the Heads of National Medicine Regulatory Authorities (NMRAs) from Organization Islamic Cooperation (OIC) Member States dibuka secara resmi oleh Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Asisten Sekretaris Umum Bidang Science and Technology OKI, CEO of Saudi Arabia Food and Drug Administration, Kepala BPOM RI, serta Deputi Bidang Kerjasama Multilateral Kementerian Luar Negeri di Jakarta Rabu (21/11).

 

Mewakili Presiden Republik Indonesia, Menteri Kesehatan menyampaikan mengenai komitmen Indonesia untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, dan membantu negara anggota OKI di bidang obat esensial dan vaksin. "Masih tingginya angka penyakit menular negara OKI dibanding angka global membuat negara anggota OKI memiliki angka impor obat yang tinggi," ujarnya. Beliau menyampaikan bahwa merefleksikan hal itu, Indonesia berkomitmen menggalang kerjasama antar otoritas regulatori untuk mewujudkan kemandirian produksi obat di negara anggota OKI.

 

Penemuan vaksin halal juga menjadi fokus utama dari pertemuan ini. "Kami berkomitmen untuk dapat menemukan vaksin halal bersama negara anggota OKI di tengah konflik yang masih dialami oleh sebagaian negara OKI", tegasnya. Fokus perhatian pada vaksin, semata bertujuan untuk meningkatkan perekonomian negara anggota OKI yang nantinya dapat meningkatkan kesejahteraan di negara anggota OKI .

 

Pertemuan ini juga dilakukan dalam rangka berbagi pengalaman dalam menentukan regulasi-regulasi yang efektif dalam menyediakan obat dan vaksin. Dalam sambutannya, Hisham Aljadhey, CEO of Saudi Arabia Food and Drug Administration menyampaikan bahwa sistem pengawasan nasional tiap negara memiliki perbedaan yang signifikan. Hal ini yang membuat fokus pada struktur dan organisasi yang menempatkan kapasitas pengujian farmasi menjadi sangat penting. "Fokus pada struktur dan organisasi ini perlu mempertimbangkan juga aturan internasional di bidang keamanan, khasiat, dan kualitas", tegasnya.

 

Untuk menjawab tantangan ini, fokus pada kerjasama dengan industri farmasi sangat penting. Dalam sambutannya Naem Khan, Asisten Sekretaris Umum bidang Science and Technology OKI menyatakan bahwa OKI dan BPOM akan memulai kerjasama dengan produsen lokal. "Komitmen untuk bekerja sama dengan industri lokal itu sendiri dalam upaya untuk semakin mengembangkan keutamaan dari industri lokal juga", jelasnya.

 

Untuk menegaskan komitmen ini perlu dibuat langkah konkrit yang dapat diaplikasikan di negara anggota OKI. Dalam sambutannya, Penny K. Lukito menyampaikan bahwa BPOM menginisiasi Draft Deklarasi Jakarta. "Deklarasi ini membawa pesan penting bahwa langkah konkrit untuk self-relience of medicine dan vaksin yang mengedepankan persatuan dan komitmen penuh dari sesama anggota", ujarnya.

 

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri RI sangat mengapresiasi langkah BPOM dalam menginisiasi acara ini. Dalam wawancaranya, Febrian Ruddyard, Deputi bidang Kerjasama Multilateral Kementerian Luar Negeri menyampaikan bahwa BPOM menjadi teladan bagaimana institusi pemerintah tidak hanya sebagai player, tapi menjadi leader yang dapat memperkenalkan produk Indonesia untuk mengatasi berbagai masalah global. Beliau juga menegaskan bahwa ini dapat dijadikan role model bagi berbagai lembaga pemerintahan untuk bekerja sama baik dengan sesama lembaga untuk mengangkat produk lokal yang dapat menjadi solusi dalam masalah global. (HM-Khairul)

 

Biro Humas dan Dukungan Strategis Pimpinan

Bagikan:

Klik disini untuk chat via WhatsApp!+
Sarana