Obat herbal atau yang akrab disebut jamu merupakan warisan leluhur bangsa Indonesia yang patut dibanggakan. Sejak dahulu obat herbal dipercaya masyarakat berkhasiat untuk menjaga kebugaran tubuh. Namun demikian, seiring perkembangan sains dan teknologi, kini obat herbal perlu dikembangkan dengan memperhatikan keamanan, manfaat, dan kualitasnya. Sinergitas berbagai pihak baik pemerintah, industri, akademisi, dan komunitas lain perlu dimaksimalkan untuk pengembangan potensi obat herbal di Indonesia melalui riset yang berkelanjutan.
Dukungan itu diwujudkan Badan POM salah satunya dengan menyelenggarakan seminar obat herbal bertema “Natural Medicine Develompent using Seed to Patient Approach” di Jakarta, 15 Maret 2016. Acara yang diselenggarakan oleh Direktorat Obat Asli Indonesia, Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Kosmetik, dan Produk Komplemen ini dibuka oleh Kepala Badan POM, Roy Sparringa dan diikuti oleh sekitar 75 orang peserta. Hadir sebagai narasumber dari PT. Soho Global Health yaitu Group Head of Scientific Affairs, PF.Campanini, SFI Research, VA.Pironti, dan Research & Development Director, Raphael Aswin Susilowidodo, dengan moderator Kepala Pusat Riset Obat dan Makanan, Tepy Usia.
Dalam sambutannya, Roy mengatakan bahwa pengembangan obat herbal perlu dilakukan secara terpadu dan komprehensif mulai dari hulu hingga hilir dengan melibatkan lintas sektor terkait. Seminar ini merupakan sebuah konsep yang inovatif dan komprehensif untuk menjamin keamanan, khasiat, dan mutu obat herbal sehingga dapat bersaing di pasar global. “Kualitas merupakan isu utama yang harus menjadi prioritas dalam tahap awal pengembangan produk obat herbal yang aman dan berkhasiat,” tutur Roy.
Cara produksi yang baik (Good Manufacturing Practice/GMP) dan manajemen mutu harus diterapkan, bahkan sebelum bahan baku diperoleh, mulai dari memilih benih untuk budidaya tanaman obat, prosedur penanaman, pemanenan, penyimpanan, dan distribusi bahan baku. Keamanan dan kualitas bahan baku merupakan modal dasar untuk menghasilkan produk obat herbal yang berkualitas tinggi. “Pengawasan selanjutnya dalam proses ekstraksi, produksi dan pengemasan, studi klinis, sampai distribusi hingga ke tangan konsumen,” jelasnya.
Roy berharap forum ini dapat lebih diimplementasikan dengan komitmen tinggi dari semua pihak demi pengembangan obat tradisional. Selain itu seminar ini merupakan wadah untuk bersinergi menciptakan komunikasi yang efektif antara semua peserta dalam rangka perkuatan pengawasan obat tradisional. “Saya sampaikan penghargaan kepada semua pihak yang telah menghadiri dan berpartisipasi dalam menyukseskan acara ini,” tutup Roy.
Pada sesi diskusi, PF.Campanini menyampaikan materi terkait “Evidence Based Phytotheraphy Seed to Patient Approach”. Dalam paparannya dia menjelaskan langkah-langkah produk obat herbal yang berkualitas untuk pasien. “Dengan sains, industri dapat mengembangkan obat herbal terstandar sehingga dihasilkan sediaan obat herbal yang teruji khasiat dan kemanannya. Budidaya tanaman obat dapat dikendalikan melalui pengaturan kondisi lingkungan seperti sistem pengairan, suhu, intensitas penyinaran matahari, dan sebagainya sehingga diperoleh zat aktif yang diperlukan,” ucapnya. (HM-Fathan)
Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat
