Stakeholder Workshop dalam rangka Development of Indonesia Risk Assessment Center (INARAC)

25-03-2015 Dit Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan Dilihat 2223 kali Pusat Data dan Informasi Obat dan Makanan

Direktorat Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan selaku Sekretariat ASEAN Expert Group on Food Safety (AEGFS) focal point dan Ketua Kelompok Kerja Jejaring Intelijen Pangan (JIP) telah menginisiasi berdirinya Indonesia Risk Assessment Center (INARAC, yang merupakan tindak lanjut endorsement ASEAN Risk Assessment Center (ARAC) dalam Senior Official Meeting on Health Development (SOM-HD) pada tahun 2014.

 

Pengembangan INARAC dilaksanakan bersama-sama dengan beberapa stakeholder kunci di tingkat nasional, regional, maupun global. Dalam hal ini World Health Organization (WHO) sebagai salah satu stakeholder kunci, mendukung pengembangan INARAC melalui fasilitasi bersama tim konsultan dengan kegiatan pengembangan prosedur INARAC, mekanisme pelaksanaan kajian risiko, reviu kapasitas kajian risiko keamanan pangan, pengembangan mekanisme operasionalisasi dan konsep roadmap INARAC.

 

Stakeholder workshop dalam rangka Development of Indonesia Risk Assessment Center diselenggarakan pada tanggal 20 Maret 2015 di Ruang Rapat Gedung E Badan POM. Workshop ini dihadiri oleh sekitar 35 orang yang merupakan perwakilan lembaga penelitian dan pengembangan dari kementerian/lembaga serta akademisi, antara lain Badan Ketahanan Pangan – Kementan, Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi – Badan Tenaga Nuklir Nasional, Balai Besar Industri Agro – Kemenperind, FKM-UI, ITB, IPB, Pusat Riset Obat dan Makanan (PROM), Pusat Pengujian Obat dan Makanan Nasional (PPOMN), unit kerja terkait di Kedeputian 3,  serta tim @risk Badan POM.

 

Stakeholder workshop ini didahului dengan sambutan singkat oleh Mr. Sharad Adhikary selaku perwakilan WHO memberikan apresiasi pada inisiasi INARAC di Indonesia. Dilanjutkan dengan paparan Halim Nababan selaku Direktur Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan mengenai langkah-langkah yang telah ditempuh Badan POM dalam pengembangan INARAC. Beliau menekankan bahwa saat ini selain operasionalisasi INARAC, aspek legal berdirinya INARAC juga sedang dipersiapkan dalam wadah JKPN. Paparan tersebut kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi bersama tim konsultan. Prof. Winiati P. Rahayu selaku tim konsultan menjelaskan bahwa saat ini telah berhasil dikumpulkan data-data terkait kebutuhan INARAC seperti data para pakar dan kajian/penelitian yang telah dilakukan, hal ini nantinya akan berkaitan erat dengan kebutuhan akan tersedianya website INARAC yang diharapkan dapat memfasilitasi operasionalisasi INARAC. Selain itu beliau juga menjelaskan bahwa INARAC akan berfungsi sebagai forum ilmiah para pakar dalam hal kajian risiko untuk memberikan masukan ilmiah yang menjadi referensi bagi manajer risiko dalam membuat suatu kebijakan. Dr. Feri Kusnandar selaku tim konsultan juga menyampaikan dengan singkat mengenai beberapa prosedur operasionalisasi INARAC yang telah berhasil disusun, antara lain inisiasi kajian, mekanisme call for expert dan call for data, roadmap, serta beberapa mekanisme penunjang operasionalisasi INARAC. Pada sesi diskusi ini, Mr. Sharad Adhikary selain menyampaikan apresiasinya pada progress pengembangan INARAC, beliau juga mengusulkan agar topik-topik kajian yang akan diangkat pada forum INARAC juga mempertimbangkan isu-isu keamanan pangan yang sedang mendunia. Peserta yang hadir menyampaikan kesediaannya untuk turut mendukung pengembangan INARAC, baik dalam bentuk keikutsertaan pada panel pakar, maupun sharing data-data kajian yang telah dikerjakan maupun yang akan dilakukan pada tahun ini. Stakeholder workshop ini adalah salah satu langkah awal yang sangat berperan dalam membesarkan INARAC yang merupakan perwakilan Indonesia di ARAC, dan sebagai wadah kajian risiko dengan menyediakan referensi ilmiah untuk digunakan dalam manajemen risiko.

 

-- Dit. Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan --

Bagikan:

Klik disini untuk chat via WhatsApp!+
Sarana