Jakarta – BPOM mendukung Net-Zero Carbon Programme dengan melakukan penanaman pohon mangrove sebanyak 16 ribu pohon di tahun 2023. Gerakan ini dimulai dengan penanaman 150 pohon mangrove secara simbolis di kawasan Taman Wisata Alam Angke Kapuk (TWAAK) dan Ekowisata Mangrove Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Utara. Tak hanya itu, dilakukan juga penandatanganan memorandum of understanding (MoU) antara BPOM dengan pelaku usaha serta pengelola kawasan TWAAK dan Ekowisata Mangrove PIK, Selasa (31/10/2023).
Kepala BPOM RI, Penny K. Lukito sampaikan bahwa kegiatan penanaman ini diluncurkan untuk mendorong tanggung jawab sosial dan lingkungan pelaku usaha obat dan makanan di Indonesia. Dalam hal ini, BPOM sebagai lembaga yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pengawasan obat dan makanan, turut mengawal industri obat dan makanan untuk mematuhi peraturan terkait kelestarian lingkungan hidup sesuai prinsip triple bottom line (TBL).
“Saya kira dalam manajemen sekarang ini, semua harus menerapkan konsep TBL di dalam industri masing-masing sehingga pada tempatnya BPOM memberikan insentif dalam regulasinya.” Ujarnya pada kegiatan Konservasi Ekosistem Mangrove yang bertemakan “Pelaku Usaha Obat Dan Makanan Mendukung Net-Zero Carbon Programme”.
Sebanyak 8 Asosiasi dan 106 industri obat dan makanan berkontribusi dalam penanaman pohon mangrove ini. Diketahui penanaman pohon mangrove di tahun ini diprediksi mampu menyerap gas rumah kaca (GRK) sebesar 345,3 ton equivalent CO2 (CO2e) per tahun. Secara bertahap selama 5 tahun ke depan, BPOM akan lakukan penanaman sebanyak 47,8 ribu pohon mangrove. Penanaman di lahan seluas 5 hektar ini diperkirakan berkontribusi meningkatkan serapan sebesar 1.398 ton CO2e setiap tahunnya. Kemudian dilanjutkan dengan penanaman minimal 30 ribu pohon pada 2024–2025 yang juga akan mampu menyerap 750 ton CO2e per tahun.
“Penanaman mangrove ini merupakan bukti nyata komitmen BPOM dan para stakeholder untuk mendukung pengurangan emisi karbon di DKI Jakarta. Dalam hal ini, BPOM juga harus peduli pada lingkungan karena industri obat dan makanan merupakan salah satu kontributor yang turut memberikan waste pada lingkungan.” ujarnya kembali.
Gerakan penanaman mangrove juga dilakukan secara serentak di pesisir pantai seluruh provinsi di Indonesia oleh masing-masing unit pelaksana teknis BPOM (BBPOM/Balai POM/Loka POM) dengan para stakeholder di daerah masing-masing. Pada kegiatan di daerah ini, sebanyak 64 ribu pohon mangrove ditargetkan untuk ditanam bersama dan diharapkan mampu menyerap 1.398 ton CO2e per tahun. Target penanaman pohon dilakukan secara bertahap selama 3 tahun dengan jumlah total 100 ribu pohon yang juga akan menambah kapasitas GRK sebesar 2.177 ton CO2e per tahun.
Kegiatan konservasi ekosistem mangrove oleh BPOM ini akan tercatat pada Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai program pertama Net Zero Carbon Emission Melalui Penanaman Mangrove dengan Kolaborator Perusahaan Obat dan Makanan. Diharapkan program ini merupakan program kolaborasi pertama yang dapat menarik pihak lain untuk ikut serta memperkaya dan berkontribusi dalam program tersebut ke depannya.
“Saya menyampaikan terima kasih kepada mitra industri obat dan makanan yang telah bersama-sama dengan BPOM, kita menunjukan bahwa dunia usaha obat dan makanan tidak hanya peduli dengan profit tapi juga ikut membangun masyarakat dan lingkungan.” Ungkap Kepala BPOM saat sesi doorstop bersama media.
“Dengan peresmian lokasi transplantasi ini adalah satu simbol bahwa kita akan terus menggerakan yang muda-muda untuk cinta negeri ini dan melindunginya tentunya.” Harapnya kembali menutup kegiatan. (HM-Devi)
Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
