Training Course on Collaborative Study on Validation of Detection
and Quantification of GMO Event Spesific Methods
Laboratorium Bioteknologi Pusat Pengujian Obat dan Makanan Nasional (PPOMN)
Tanggal 23-27 Oktober 2017
Dalam rangka penegakan Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor HK.03.1.23.03.12.1564 tahun 2012 tentang Pengawasan Pelabelan Pangan Produk Rekayasa Genetik, maka diperlukan dukungan pengujian yang mampu mendeteksi dan mengkuantifikasi event spesific pangan produk rekayasa genetik (PRG). Sebagai laboratorium yang terakreditasi ISO 17025, maka diperlukan metode deteksi dan kuantifikasi event spesific pangan produk rekayasa genetik setiap yang valid. Dalam rangka persiapan studi kolaborasi untuk validasi metode kuantifikasi event spesific pangan produk rekayasa genetic, maka diselenggarakan pelatihan ‘’Collaborative Study on Validation of Detection and Quantification of GMO Event Spesific Method” pada tanggal 23-27 Oktober 2017 di PPOMN. Peserta pelatihan sebanyak 25 orang, yaitu 13 orang dari PPOMN dan 12 orangdari Balai Besar POM di Aceh, Mataram, Makasar, Surabaya, Yogyakarta dan Pontianak serta peserta dari Direktorat Insert Pangan dan Pusat Riset Obat dan Makanan. Pelatihan tersebut mengundang narasumber ahli di bidang keamanan pangan produk rekayasa genetik, yaitu Kazumi Kitta, Ph.D dari Food Authenticity Analysis Unit, NARO, NFRI Jepang, yang salah satu tugas pokok lembaganya adalah memproduksi metode deteksi, baik deteksi pangan rekayasa genetika, kultivar maupun otentikasi produk pangan. Metode deteksi yang dihasilkan lembaga tersebut dipublikasikan secara terbuka, sebagai rujukan baik untuk laboratorium institusi pemerintah maupun swasta serta industri di seluruh Jepang, bahkan tingkat internasional.
Dalam kuliahnya Dr. Kitta memaparkan proses pengembangan dan validasi metode yang melibatkan seluruh peneliti baik dari institusi pertanian, kesehatan, ahli teknik rekayasa genetika dan ahli statistik. Dalam melakukan studi kolaborasi untuk memvalidasi metode deteksi dan kuantifikasi dibutuhkan paling sedikit 8 laboratorium biologi molekuler yang kompeten dalam pengujian PRG menggunakan Real Time PCR. Proses validasi dan studi kolaborasi akan membutuhkan waktu dan biaya yang besar namun dapat menghasilkan metode yang valid dan tangguh. Adanya harmonisasi dalam proses validasi akan memberi keuntungan bagi pemerintah dalam melakukan pengawasan pangan PRG secara efisien.
Manfaat dari pelatihan ini adalah memberi gambaran kepada peserta pelatihan baik dari pusat (PPOMN) maupun Balai, mengenai persiapan serta pemenuhan persyaratan kegiatan studi kolaborasi yang akan dilakukan tahun 2019. Peserta juga diharapkan dapat memahami tahapan pengujian kuantifikasi dan validasi metodedeteksi dan kuantifikasi pangan PRGdalam bentuk studi kolaborasi, disamping praktek langsung teknik kuantifikasi event spesific pangan PRG di laboratorium.
