Profil risiko oleh FAO/WHO didefinisikan sebagai A description of the food safety problem and its context. Tahapan profiling ini menjadi salah satu tahapan penting dalam manajemen risiko. Di tingkat internasional, Codex Alimentarius Commission, selaku manajer risiko melaksanakan risk profling dalam penugasan scientific body (misalnya JECFA, JMPR atau JEMRA), untuk melaksanakan kajian risiko. Pada level ASEAN, manajer risiko, misalnya ASEAN Sectoral Bodies (PFP-WG atau AEGFS), ASEAN Member States atau pihak lain yang berkepentingan, dapat meminta ASEAN Risk Assessment Centre for Food Safety (ARAC) untuk melakukan kajian ilmiah terhadap tingkat risiko cemaran keamanan pangan. Manajer risiko perlu menyertakan proposal kepada ARAC dengan melampirkan profil risiko. Pada tingkat nasional, Badan POM menginisiasi pengembangan Indonesia Risk Assessment Center (INARAC) sebagai forum pelaksana kajian risiko yang terintegrasi secara nasional. INARAC akan menerapkan pendekatan yang telah dilaksanakan secara global, dimana risk profiling menjadi tahapan yang diimplementasikan oleh manajer risiko sebagai bagian penugasan INARAC.
Badan POM berkolaborasi dengan The International of Life Sciences Institute Southeast Asia Region menyelenggarakan Workshop on Food Safety Risk Profiling in ASEAN yang diselenggarakan pada tanggal 7-8 Maret 2016 di Jakarta. Workshop ini bertujuan untuk: 1) Menambah wawasan dan pemahaman mengenai profil risiko dan bagaimana profil tersebut digunakan untuk menunjang program keamanan pangan, 2) Membagi informasi serta pengalaman dalam risk profiling terkait keamanan pangan, dan 3) Mengembangkan common approach dalam pelaksaaan risk profiling di tingkat ASEAN.
Workshop ini diharapkan dapat memberikan gambaran terkait pentingnya profil risiko bagi proses manajemen dan kajian risiko serta bagaimana mekanisme implementasinya. Selain itu, common approach terkait risk profiling pada level ASEAN diharapkan dapat disepakati dalam pertukaran pengetahuan dan interaksi yang komunikatif selama penyelenggaraan dua hari workshop.
Workshop ini dihadiri oleh perwakilan dari 8 ASEAN Member States, diantaranya Kamboja, Indonesia, Lao PDR, Malaysia, Myanmar, Filipina, Thailand dan Vietnam. Narasumber yang diundang adalah: Dr. Yukiko Yamada dari Ministry of Agriculture, Forestry and Fisheries (MAFF) Jepang, Prof. Jorgen Schlundt dari Nanyang University - Singapura, Dr. Chin Cheow Keat dari Food Safety Quality Division – Ministry of Health Malaysia sekaligus sekretariat ARAC, Prof. Ratih Dewanti Hariyadi, dan Prof. Nuri Andarwulan dari Institut Pertanian Bogor. Drs. Halim Nababan, MM, selaku Direktur Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan, Badan POM menjadi chairman pada dua hari workshop ini.
Dr. Yukiko Yamada membawakan materi yang berjudul Risk Profiling as a Preliminary Risk Management Activity within Risk Analysis dilanjutkan dengan materi yang berjudul What is a Risk Profile? Who Develops it and Who Uses It?. dan Risk Profiling for Chemical Risk Management. Materi pertama menyajikan overviu terkait kerangka manajemen risiko. Materi kedua meringkas terkait komponen profil risiko, siapa yang menyusun profil tersebut dan siapa yang menggunakannya. Sedangkan materi ketiga menjelaskan komponen yang digunakan untuk menyusun profil risiko untuk cemaran kimia dan bahan tambahan pangan.
Dr. Chin Cheow Keat menyampaikan materi yang berjudul Risk Profiling and Risk Assessment Activities in ASEAN. Pada presentasinya beliau menjelaskan peran ARAC dalam mengoordinasikan kegiatan kajian risiko pada level ASEAN dimana risk profiling menjadi salah satu tahapan penting yang mengawali kegiatan kajian risiko. Prof. Dr. Ratih Dewanti Hariyadi menyampaikan beberapa komponen penting yang diperlukan dalam profil risiko untuk cemaran mikrobiologi. Prof. Jorgen Schlundt membawakan presentasi yang berjudul Risk Profiles- Examples from Denmark and New Zealand. Namun, Beliau menyampaikan materi tersebut melalui telekonferensi karena berhalangan hadir di Indonesia.
Workshop dilanjutkan dengan diskusi untuk menentukan common approach dalam Risk Profiling pada tingkat ASEAN. Beberapa komponen telah diidentifikasi untuk dimasukkan ke dalam Risk Profiling baik itu untuk bahaya mikrobiologi dan kimia. Beberapa tindak lanjut dari workshop ini adalah rekomendasi komponen profil risiko akan dilaporkan kepada AEGFS. Guideline Risk Profiling akan disusun dengan mengacu kepada panduan yang dikembangkan oleh MAFF Jepang. Capacity Building juga menjadi salah satu rekomendasi penting yang perlu ditindaklanjuti.
Workshop dua hari ini berjalan secara baik, dengan pertukaran pengetahuan dan interaksi yang komunikatif antara narasumber dan peserta. Diharapkan rekomendasi yang dihasilkan pada workshop ini dapat ditindaklanjuti untuk mengimplementasikan risk profiling sebagai bagian dari analisis risiko untuk memperkuat sistem keamanan pangan, baik di level nasional maupun regional.
