Produk perikanan merupakan salah satu jenis pangan yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Rata-rata nilai konsumsi ikan di dalam negeri meningkat dari 30,48 kg/kapita/tahun pada tahun 2010 menjadi 32,7/kapita/tahun pada tahun 2012. Namun, keamanan pangan produk perikanan masih menjadi perhatian utama karena masih terdapat produk pangan perikanan yang tidak memenuhi syarat mutu dan keamanan pangan. Hal tersebut ditandai oleh meningkatnya penolakan kasus produk perikanan terutama disebabkan oleh cemaran mikrobiologi dan kontaminasi kimia. Oleh karena itu, perlu tindakan untuk menjamin keamanan pangan terutama produk perikanan di Indonesia.
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautandan Perikanan menyelenggarakan workshop penyusunan kajian risiko pada produk perikanan pada tanggal 25 September 2014 di Jakarta. Kajian risiko produk perikanan merupakan suatu kajian yang didasari oleh data-data ilmiah terkait dengan bahaya mikrobiologi/kimiawi pada produk perikanan yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan pada konsumen. Penyelenggaraan workshop ini bertujuan untuk menggali informasi terkait isu-isu keamanan pangan pada produk perikanan, memperkuat jaringan keamanan pangan di Indonesia terutama untuk produk perikanan, berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam penyusunan suatu kajian risiko baik mikrobiologi maupun kimiawi pada produk perikanan yang dapat dijadikan sebagai bahan rekomendasi bagi pengambil kebijakan/manajer risiko terhadap suatu kasus keamanan pangan, serta membangun jaringan kerja antar unit kerja yang melakukan kajian risiko di berbagai institusi.
Peserta pada workshop ini adalah perwakilan dari satuan kerja lingkup Kementerian Kelautan dan Perikanan yaitu Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan, Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, Direktorat Jenderal Budidaya Perikanan, Badan Karantina Perikanan, Pengendalian Mutu dan Keamanan, institusi lain seperti Badan Pengawas Obat dan Makanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan, Badan Karantina Pertanian Kementerian Pertanian, Badan Tenaga Atom Nasional, Sekretariat Jejaring Intelijen Pangan serta dihadiri oleh perwakilan lembaga riset seperti SEAMEO, SEAFAST Center, dan universitas.
Workshop ini menghadirkan tiga narasumber, yaitu Drs. Halim Nababan, MM selaku Direktur Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan sekaligus ketua Jejaring Intelijen Pangan yang menyampaikan tentang “Isu global keamanan pangan pada produk perikanan”. Beliau memaparkan data keamanan pangan terkait produk perikanan yang masuk di Direktorat Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan selaku National Contact Point (NCP) INRASFF. Pembicara kedua adalah Dr. Harsi Kusumaningrum dari Insitut Pertanian Bogor yang menyampaikan materi tentang Practical approach for microbiological risk assessment of fishery products. Beliau memaparkan metodologi pelaksanaan kajian mikrobiologi, baik secara kualitatif dan kuantitatif dengan menggunakan tools modeling risiko. Pembicara ketiga adalah Prof. Dr. Nuri Andarwulan dari Institut Pertanian Bogor yang menyampaikan presentasi tentang Practical approach for chemical risk assessment of fishery products.
Dalam sesi diskusi, peserta sangat antusias membahas rencana kegiatan kajian risiko terkait produk perikanan ini. Beberapa masukan diantaranya adalah penentuan bahaya dan komoditas perikanan yang menjadi prioritas penyusunan kajian risiko produk perikanan, perlu dibentuknya jejaring di dalam instansi/swasta yang terkait dengan produk perikanan sebagai wadah pelaksanaan kajian risiko produk perikanan secara berkelanjutan. Sebagai tindak lanjut dari workshop ini akan diadakan pertemuan kembali yang akan dilakukan secara lebih teknis untuk membahas kajian risiko pada produk perikanan.
Dit. Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan
