SIARAN PERS
Badan POM Terus Dorong Percepatan Pengembangan
Obat Tradisional Indonesia di Tingkat Global
Gansu – Saat ini Pemerintah tengah menggenjot pengembangan industri obat tradisional Indonesia yang berdaya saing sesuai Instruksi Presiden (Inpres) No. 6 Tahun 2016 tentang Percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan. Badan POM sebagai koordinator nasional pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Pengembangan dan Pemanfaatan Jamu dan Fitofarmaka juga terus berupaya mewujudkan kebijakan hilirisasi untuk mendukung akses dan ketersediaan obat nasional serta meningkatkan nilai ekonomi Indonesia.
“Melalui Satgas Percepatan Pengembangan dan Pemanfaatan Jamu dan Fitofarmaka ini, diharapkan terbangun sinergi nasional yang mendorong percepatan penelitian, pengembangan, dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi obat tradisional, sehingga hasil penelitian dapat dihilirisasi/dikomersialisasi menjadi produk obat herbal berkualitas,” ungkap Kepala Badan POM, Penny K. Lukito.
Indonesia sendiri memiliki potensi keanekaragaman hayati terbesar di dunia, termnasuk sekitar 30 ribu jenis tanaman dan hewan yang berpotensi untuk dijadikan obat. Kepala Badan POM menyampaikan bahwa potensi inilah yang ingin dikembangkan melalui berbagai penelitian, dengan harapan dapat dihilirisasi untuk dapat memenuhi permintaan akan obat tradisional dan suplemen kesehatan dari bahan alam yang semakin meningkat.
Pada tahun 2019, Badan POM telah menyusun kegiatan strategis untuk melestarikan obat tradisional atau yang dikenal sebagai jamu sebagai Budaya Asli Indonesia, diantaranya melalui penyelenggaraan International Seminar and Expo Jamu dan Fitofarmaka. “Seminar ini akan dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat dengan narasumber dari pengguna dan peneliti jamu, serta pelaku usaha jamu yang sudah merambah pasar internasional. Seminar juga akan dirangkaikan dengan Expo Jamu dan Fitofarmaka yang akan diikuti oleh pelaku usaha dalam dan luar negeri,” jelas Penny K. Lukito.
Selain itu, setelah bulan Juli kemarin Kepala Badan POM beserta jajaran hadir pada The 27th Annual Meeting of International Congress on Nutrition and Integrative Medicine (ICNIM) di Sapporo, Jepang, yang dihadiri lebih dari 25 negara. Kehadiran Badan POM adalah dalam rangka mendukung riset dan inovasi serta membangun jejaring riset dan produksi obat herbal berkualitas. Pada minggu terakhir Agustus 2019 ini, Kepala Badan POM bertolak ke Tiongkok untuk menghadiri The 2nd China (Gansu) Traditional Chinese Medicine Industry Expo 2019.
The 2nd China (Gansu) Traditional Chinese Medicine Industry Expo merupakan sebuah forum atau pameran yang membahas tentang obat-obatan tradisional khususnya yang berasal dari Tiongkok. Penyelenggaraan Gansu TCM Expo didasari oleh semangat proyek One Belt One Road (OBOR), yang bertujuan membuka keran konektivitas dagang antar-negara di Eropa dan Asia melalui jalur sutra maritim.
Kepala Badan POM menjelaskan bahwa melalui The 2nd China (Gansu) Traditional Chinese Medicine Industry Expo 2019, Badan POM, secara tidak langsung, memanfaatkan proyek OBOR untuk memperkenalkan serta mempromosikan keunggulan dan kemanfaatan Obat Tradisional Indonesia kepada sekitar 500 perusahaan dan 3000 tamu undangan dari berbagai belahan di seluruh dunia yang hadir dalam expo ini. Tiga perusahaan Indonesia, yaitu PT. Borobudur, PT. Leo Agung, dan PT. Harvest Gorontalo turut menyemarakkan expo ini dengan menampilkan berbagai produk obat tradisional hasil produksinya.
“Melalui expo ini, Badan POM juga dapat mempelajari kebijakan dan pengembangan industri Obat Tradisional Tiongkok untuk menjadi referensi bagaimana obat tradisional Indonesia dapat dikembangkan dengan kualitas yang memenuhi standar dan menjadiujung tombak pengembangan ekonomi daerah dan nasional. Hal ini sejalan dengan prioritas utama Badan POM untuk dapat menaikkan nilai ekonomi Indonesia melalui pengembangan industri jamu nusantara,” ujar Penny K. Lukito. Kepala Badan POM menekankan pentingnya menciptakan pendekatan inovatif untuk mempercepat pengembangan obat-obatan tradisional dari bahan-bahan alami sampai dengan pengembangan fitofarmaka. Fitofarmaka adalah obat berbahan alam yang sudah lulus uji klinis.
“Penyederhanaan peraturan tanpa kompromi pada kualitas, keamanan dan kemanjuran, juga memainkan peran penting dalam mempercepat pengembangan industri obat-obatan tradisional berkualitas yang akan meningkatkan tidak hanya aspek kesehatan namun juga meningkatkan volume perdagangan dalam negeri maupun ekspor yang mendukung pengembangan ekonomi daerah dan nasional. Semoga forum ini dapat memberikan masukan tentang bagaimana cara bersinergi dan berkolaborasi untuk mengembangkan obat-obatan tradisional di lingkup regional dan global.” tutup Kepala Badan POM.
______________________________________________________________________________________________________________________
Informasi lebih lanjut hubungi:
Contact Center HALO BPOM di nomor telepon 1-500-533, SMS 0-8121-9999-533, email halobpom@pom.go.id, twitter @BPOM_RI, atau Unit Layanan Pengaduan Konsumen (ULPK) Balai Besar/Balai POM di seluruh Indonesia.
Apabila masyarakat memerlukan informasi lebih lanjut atau menyampaikan pengaduan obat dan makanan, dapat menghubungi lapor.go.id, Contact Center HALOBPOM 1-500-533 (pulsa lokal), SMS 0812-1-9999-533, WhatsApp 0811-9181-533, e-mail halobpom@pom.go.id, Instagram @BPOM_RI, Facebook Page @bpom.official, Twitter @BPOM_RI, atau Unit Layanan Pengaduan Konsumen (ULPK) Balai Besar/Balai/Loka POM di seluruh Indonesia.
